Tanggal 26 Maret 2026,
gua duduk di bioskop.
Nonton film yang judulnya kurang lebih bilang:
“Tunggu aku sukses nanti.”
Kalimat yang keliatannya simpel.
Tapi entah kenapa…
berat juga ya.
Niat awal gua biasa aja.
Nonton.
Hiburan.
Pulang.
Nggak ada rencana nangis.
Nggak ada agenda mikir hidup.
Sampai ada satu scene…
yang bikin gua tiba-tiba diem.
Bukan karena dramanya berisik.
Justru karena terlalu deket.
Tentang orang yang lagi berjuang.
Tentang janji ke diri sendiri.
Tentang keyakinan kalau “nanti bakal ada waktunya”.
Dan di situ gua mulai mikir:
“Ini film… atau ini gua?”
Beberapa menit kemudian,
mata gua mulai basah.
Gua langsung denial:
“Ini pasti efek sound system bioskop.”
Iya.
Salah Dolby.
Bukan karena ceritanya kena.
Tapi ya jujur aja…
filmnya emang sedih.
Bukan sedih yang lebay.
Tapi sedih yang pelan,
yang nggak teriak…
tapi nempel.
Di tengah gelapnya bioskop,
gua ngerasa kayak lagi ngeliat versi lain dari diri gua sendiri.
Versi yang:
- lagi ngejar sesuatu yang belum tentu jelas
- lagi percaya sama “nanti juga berhasil”
- tapi diam-diam capek nunggu
Lucu ya.
Kita sering bilang:
“Nanti aja kalau gua udah sukses…”
Seolah-olah semua hal baik
harus nunggu versi “lebih layak” dari diri kita.
Dan tanpa sadar…
kita jadi hidup di masa depan
yang belum tentu datang.
Scene demi scene lewat.
Dan makin ke sini,
yang kebuka bukan cerita filmnya…
tapi pikiran gua sendiri.
Tentang:
- ekspektasi yang gua taruh ke diri gua sendiri
- tekanan yang nggak pernah gua omongin
- dan kebiasaan bilang “gua gapapa” padahal enggak
Yang paling nyebelin?
Gua baru sadar semua itu
setelah air mata gua jalan duluan.
Nggak ada notifikasi.
Langsung update.
Film itu sedih.
Tapi bukan cuma karena ceritanya.
Dia kayak cermin.
Yang dengan santai bilang:
“Lo juga lagi nunggu, kan?”
Nunggu versi diri yang lebih sukses.
Nunggu hidup yang lebih enak.
Nunggu momen di mana semuanya akhirnya “beres”.
Padahal ya…
bisa jadi yang capek itu bukan perjuangannya.
Tapi nunggu terus tanpa pernah ngerasa cukup.
Filmnya selesai.
Lampu bioskop nyala.
Orang-orang berdiri, keluar, lanjut hidup masing-masing.
Gua masih duduk.
Bukan karena sedih.
Tapi karena gua lagi mikir:
selama ini…
gua hidup buat sekarang,
atau cuma nunggu “nanti”?
Dan untuk pertama kalinya,
gua agak jujur sama diri sendiri:
gua capek nunggu.
Jadi kalau ada yang nanya:
“Filmnya sedih ya?”
Gua jawab:
Iya.
Tapi yang bikin berat itu…
ternyata gua juga lagi ada di cerita yang sama.


