Padli.
← Kembali

Bu, Aku Memang Lambat

· 2 menit baca
Bu, Aku Memang Lambat

Ibu, Maaf Kalau Sampai Hari Ini Aku Belum Bisa Membuatmu Bangga

Ibu,

Maaf kalau sampai hari ini aku belum bisa membuatmu bangga.

Belum bisa menunjukkan pencapaian yang sering diceritakan orang-orang kepada orang tuanya.

Belum bisa memberikan kehidupan yang lebih nyaman seperti yang sering aku bayangkan.


Kadang aku melihat orang lain berlari begitu cepat.

Kariernya naik.

Usahanya berkembang.

Keluarganya lengkap.

Sementara aku…

masih berjalan pelan.

Kadang terlalu pelan.

Sampai aku sendiri sering bertanya:

“Apa aku memang lambat, Bu?”


Maaf kalau prosesku tidak secepat yang Ibu harapkan.

Maaf kalau sampai hari ini aku masih berjuang dengan diriku sendiri.

Masih belajar berdamai.

Masih belajar percaya bahwa hidup bukan perlombaan yang harus selalu dimenangkan.


Sejak Ayah pergi,

aku tahu hidup tidak selalu mudah.

Aku tahu Ibu juga memikul banyak hal sendirian.

Dan mungkin itu yang membuatku sering merasa bersalah.

Karena sampai hari ini,

aku belum bisa membalas semua pengorbanan yang sudah Ibu berikan.


Aku ingin membuat Ibu bahagia.

Sungguh.

Bukan karena kewajiban.

Tapi karena aku tahu betapa banyak yang sudah Ibu korbankan untukku.


Hanya saja…

jalanku ternyata lebih lambat dari yang kubayangkan.

Lebih banyak tersesatnya.

Lebih banyak diamnya.

Lebih banyak jatuh dan bangunnya.


Kadang aku takut.

Takut mengecewakan Ibu.

Takut waktuku habis sebelum sempat membuat Ibu tersenyum bangga karena diriku.

Takut semua yang sedang kuusahakan ternyata tidak cukup.


Tapi di antara semua ketakutan itu,

aku masih berjalan.

Pelan.

Sangat pelan.

Namun aku belum berhenti.


Aku mungkin tertinggal dari banyak orang.

Tapi aku masih mencoba.

Masih belajar.

Masih memperbaiki diri sedikit demi sedikit.


Dan kalau hari itu nanti datang,

hari ketika aku akhirnya bisa berdiri dengan lebih tegak,

bisa memberikan hidup yang lebih baik untuk Ibu,

aku harap Ibu tahu satu hal:

Aku tidak pernah menyerah.


Jadi untuk sekarang,

izinkan aku berjalan dengan kecepatanku sendiri.

Walaupun lambat.

Walaupun tertinggal.

Walaupun hasilnya belum terlihat.


Karena di setiap langkah kecil yang aku ambil,

selalu ada satu alasan yang membuatku terus bergerak.

Alasan itu adalah Ibu.

Dan harapan bahwa suatu hari nanti,

aku bisa berkata:

“Bu, terima kasih sudah menunggu. Aku memang lambat. Tapi aku akhirnya sampai.”

Suka tulisan ini?

Kasih tepuk tangan biar admin semangat!

Baca Juga

Disimpan

Ngopi ngapa ngopi,
ngelamun aja liatin layar kosong.