Disimpan

Ngopi ngapa ngopi,
ngelamun aja liatin layar kosong.

Padli.
← Kembali

Hidayah Ujian Kalkulus

· 2 menit baca
Hidayah Ujian Kalkulus

Ujian Tengah Semester selalu datang tanpa permisi.
Dan seperti hubungan yang gagal, ia sering muncul saat kita belum siap.

Pagi itu jadwalnya Kalkulus.
Mata kuliah yang namanya aja udah bikin perut mules sebelum masuk kelas.

Masalahnya sederhana tapi mematikan:
gua nggak belajar sama sekali.

Persiapan Palsu

Malam sebelumnya gua sempet buka modul.
Bukan buat belajar, tapi buat memastikan kalau gua memang nggak ngerti apa-apa.

Integral lipat, turunan berlapis, simbol-simbol aneh yang bentuknya kaya alien jatuh ke bumi.
Lima menit buka buku, sepuluh menit bengong, dua jam nyalahin sistem pendidikan.

Akhirnya gua tidur dengan doa paling jujur:

“Ya Tuhan, kalau memang ini takdir, setidaknya jangan bikin gua kelihatan bodoh banget.”

Duduk Paling Depan

Entah kesambet apa, hari itu gua duduk paling depan.
Padahal biasanya posisi aman adalah tengah—cukup dekat buat pura-pura fokus, cukup jauh buat nyontek.

Dosen masuk.
Senyumnya tenang. Terlalu tenang.

Soal dibagikan.

Dan di situlah gua sadar, hidup memang sering kali kejam tanpa aba-aba.

Soal Nomor Satu: Penampar Realita

Soal pertama aja udah bikin gua mikir: “Ini kalkulus atau bahasa Sanskerta?”

Pulpen gua berhenti.
Kertas gua kosong.
Otak gua loading… tapi buffering.

Sementara itu, suara gesekan pulpen temen-temen lain terdengar kaya hujan rintik.
Indah. Menyakitkan.

Datangnya Hidayah

Di tengah keputusasaan, gua nengok dikit ke samping.
Pelan. Hati-hati. Kaya maling sandal di masjid.

Dan di sanalah gua melihatnya.

Temen gua—sebut saja A—menulis dengan penuh keyakinan.
Gerakan tangannya mantap. Seolah dia dan kalkulus sudah berdamai sejak lahir.

Bukan contekan penuh.
Bukan jawaban lengkap.

Cuma satu baris kecil rumus.

Tapi buat gua, itu bukan rumus.
Itu hidayah.

Antara Dosa dan Kelulusan

Gua ragu.

Di satu sisi, ini salah.
Di sisi lain, IPK gua juga butuh diselamatkan.

Akhirnya gua tulis ulang rumus itu.
Dengan interpretasi pribadi.
Dengan iman seadanya.

Ajaibnya, soal nomor dua jadi kebuka.
Nomor tiga nyambung.
Nomor empat… ya minimal ada isinya.

Setelah Ujian

Keluar kelas, kaki gua gemeteran.
Bukan karena takut dosa, tapi karena kaget masih hidup.

Temen gua nanya, “Gimana?”

Gua jawab jujur, “Alhamdulillah… ada hidayah.”

Dia ketawa.
Gua ikut ketawa.
Tuhan mungkin juga ikut senyum kecil.

Epilog

Ujian kalkulus hari itu ngasih pelajaran penting:

  • Belajar itu penting.
  • Duduk depan itu berbahaya.
  • Dan hidayah bisa datang dari arah yang nggak ada di silabus.

Sejak hari itu, gua janji bakal belajar lebih rajin.
Minimal… niatnya dulu.

Suka tulisan ini?

Kasih tepuk tangan biar admin semangat!

Baca Juga